Kenali Ciri-Ciri dan Penyebab Darah Tinggi yang Perlu Diwaspadai

Kenali Ciri-Ciri dan Penyebab Darah Tinggi yang Perlu Diwaspadai

Hipertensi atau darah tinggi seringkali tidak datang tanpa disadari, dan seiring waktu dapat menyebabkan indikasi masalah kesehatan lainnya yang lebih serius. Kenali ciri-ciri dan penyebab penyakit darah tinggi yang perlu diwaspadai.

Darah tinggi menjadi salah satu momok yang menakutkan bagi manusia. Bagaimana tidak, penyakit ini seringkali menyerang tanpa ada gejala tertentu. Kemudian, baru diketahui setelah keadaan semakin parah, dan dapat menyebabkan berbagai masalah Kesehatan lain yang lebih serius. Oleh sebab itu, ada baiknya untuk selalu melakukan pengecekan darah secara berkala, untuk mengetahui jika ada gejala ataupun ciri-ciri yang bisa diwaspadai karena serangan darah tinggi.

Mengenal Hipertensi, Tekanan Darah Tinggi

Mengenal Hipertensi
Image Credit: Kompas.com

Hipertensi adalah kondisi dimana kekuatan sirkulasi udara terhadap pembuluh darah utama dalam tubuh yang terlalu tinggi. Umumnya tekanan darah ini bergantung pada seberapa kuat kinerja jantung dan resistensi pembuluh darah bekerja. Ketika darah yang dipompa jantung terlalu banyak, maka pembuluh darah akan mengalami penyempitan dan tekanan darah akan meninggi. Kondisi darah tinggi terjadi disaat tekanan darah mencapai angka 130/80 mmHg atau bahkan lebih.

Pada dasarnya kekuatan tekanan dara memang dapat berubah sewaktu-waktu bergantung dengan aktivitas jantung. Ketika Anda melakukan aktivitas berat seperti berolahraga, biasanya akan kenaikan pada tekanan darah. Sedangkan, darah akan kembali turun ketika Anda sedang beristirahat atau dalam keadaan normal. Pengaruh lainnya yang dapat mempengaruhi tekanan darah adalah daya tahan pembuluh darah yang berbeda-beda pada setiap individu.

Pada keadaan normal, tekanan darah harusnya berada pada angka di bawah 120/80 mmHg. Kemudian, Tekanan darah akan meningkat dan dapat dikategorikan sebagai pre-hipertensi ketika sudah mencapai angka sistolik 120-139 dan angka diastolic 80-89 mmHg. Ketika tekanan darah sudah mencapai angka sistolik sebesar 140-159 mmHg dan diastolik 90-99 mmHg, dapat dikatakan bahwa tekanan darah sudah masuk kategori hipertensi derajat 1 atau bahkan lebih.

Angka sistolik dan diastolik menjadi acuan tolak ukur untuk menentukan tekanan darah. Angka tekanan darah yang ada di depan merujuk pada bacaan sistolik yang dimaksudkan sebagai hitungan ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh atau saat melakukan kontraksi. Sedangkan angka dibelakangnya disebut sebagai angka diastolik, yakni hitungan ketika jantung beristirahat dalam keadaan rileks sembari memenuhi bilik jantung dengan darah.

Hipertensi bisa terjadi kapan saja tanpa adanya penyebab yang pasti. Namun, tekanan darah tinggi juga bisa muncul karena kondisi atau penyakit lain, seperti penyakit jantung atau penyakit ginjal yang sudah diderita sebelumnya. Namun, sebuah penelitian menyebutkan bahwa umumnya sekitar 85% kasus hipertensi tidak dapat ditentukan penyebabnya. Biasanya, kondisi ini membuat hipertensi susah diobati, kecuali dijaga dengan pola hidup yang sehat.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui apakah Anda mengalami darah tinggi atau tidak adalah dengan rutin melakukan medical check-up. Anda bisa mengecek tekanan darah Anda sendiri di rumah, puskesmas, klinik ataupun layanan kesehatan lainnya. Setelah diketahui tekanan darah Anda, biasanya dokter akan menanyakan kondisi medis lainnya yang mungkin mempengaruhi tekanan darah Anda. Jika tergolong berat, Anda baru akan dirujuk ke dokter spesialis.

Tekanan darah tinggi juga sering menjadi penyebab kematian mendadak yang banyak dialami oleh orang-orang bahkan disebut-sebut sebagai pembunuh mendadak. Pasalnya, penyakit ini tidak menyebabkan gejala hipertensi dalam jangka panjang. Namun, ketika Anda sudah terserang hipertensi, dapat menandakan sebuah indikasi munculnya penyakit komplikasi lainnya yang berhubungan dengan tekanan darah. Diantaranya seperti penyakit jantung koroner dan stroke.

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang secara mudah dapat menyerang hampir semua orang. Terbukti, penderita tekanan darah tinggi akan terus mengalami peningkatan terlebih pada orang-orang dewasa di seluruh dunia. World Health Organization bahkan menyebut angkanya diprediksi akan melonjak setiap tahunnya secara global. Begitu pula dengan yang terjadi di Indonesia. Pada tahun 2018, data di Kemenkes RI menunjukkan 34,1% masyarakat mengalami hipertensi.

Ciri-Ciri Orang yang Terserang Hipertensi

Ciri-Ciri Hipertensi
Image Credit: Tribunnews.com

Tekanan darah tinggi memang seringkali menyerang tanpa ada gejala yang signifikan. Namun, bukan berarti Anda tidak bisa mengenalinya. Secara umum, orang yang menderita hipertensi memiliki ciri-ciri yang biasanya terjadi sebagai indikasi awal munculnya hipertensi pada tubuh Anda. Sehingga, jika Anda merasa mengalami beberapa ciri-ciri ini sepatutnya Anda untuk waspada. Cara terbaik agar gejala hipertensi tidak makin parah, adalah dengan menjaga pola hidup sehat.

Ciri pertama yang menunjukkan Anda terserang hipertensi adalah rasa sakit pada daerah kepala yang parah. Darah tinggi dapat menyebabkan penderitanya merasakan sakit kepala yang sangat parah karena otak yang merasakan tekanan dapat membuat adanya kebocoran darah dari otak. Sehingga, otak akan mengalami pembengkakan atau biasa disebut dengan edema. Adanya pembengkakan ini akan menambah tekanan pada otak dan menimbulkan sakit kepala yang sangat parah.

Setelah mengalami sakit kepala yang teramat, ketika tekanan darah mulai naik maka kinerja jantung akan lebih ekstra. Pada saat kondisi ini terjadi, jantung akan membutuhkan lebih banyak oksigen. Kendati demikian, tidak membuat jantung dapat mempertahankan aliran darah yang tepat. Sehingga, penderita hipertensi akan mulai merasakan kelelahan karena aliran darah yang tinggi dan merasa tak berdaya untuk melakukan berbagai aktivitas fisik yang berat.

Keadaan seperti diatas kemudian dapat membuat penderita akan mengalami kesulitan untuk bernafas. Karena, pembuluh arteri yang membawa darah penuh oksigen dari jantung ke paru-paru akan semakin menyempit. Sehingga, darah akan sulit mengalir melalui pembuluh darah dan menyebabkan tubuh kekurangan oksigen sehingga mengalami kesulitan dalam bernafas. Dalam keadaan seperti ini, biasanya penderita akan mulai mengalami hipertensi paru.

Salah satu akibat yang ditimbulkan dari hipertensi paru alias penyempitan pembuluh darah ke jantung adalah rasa nyeri di dada. Penyempitan ini akan membuat aliran darah ke otot jantung menjadi terganggu. Selain itu, aliran darah yang tidak lancar akan menyebabkan otot menjadi kekurangan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Inilah yang kemudian memicu timbulnya rasa nyeri di bagian dada. Atau bahkan ketika menjadi lebih parah bisa menyebabkan serangan jantung.

Selanjutnya, setelah semua ciri diatas terjadi detak jantung penderita hipertensi akan menjadi tidak normal. Detak jantung dapat menjadi lebih lambat ataupun menjadi lebih cepat secara tidak konsisten. Kondisi ini juga dapat terjadi selama beberapa waktu yang lama, hingga dapat membuat keadaan semakin parah. Ketika penderita tekanan darah tinggi sudah mengalami detak jantung tidak normal, kemungkinan untuk terserang penyakit komplikasi pun semakin besar.

Ciri-ciri lain yang sering menyerang penderita hipertensi adalah masalah penglihatan. Adanya tekanan darah yang tinggi seperti ini bisa menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah di bagian belakang mata, atau retina. Kondisi ini seperti ini disebut sebagai retinopati hipertensi, dan menjadi semakin parah, ketika tekanan darah tinggi ini tak kunjung untuk diobati. Jika sudah begini, penderita akan merasa penglihatannya menjadi tidak jelas atau buram.

Ketika terserang hipertensi, penderita juga memiliki kemungkinan untuk mengalami hematuria. Hematuria adalah keadaan dimana urine penderitanya akan mengandung darah. Kejadian ini seringkali ditemukan pada penderita dengan ukuran ginjal yang besar, serta penderita darah tinggi. Hal ini bisa saja terjadi ketika adanya kista atau pembuluh darah kecil di sekitar tubuh Anda pecah di sekitaran kista.

Selain itu, biasanya orang yang terserang darah tinggi akan sering merasa sedikit kebingungan, dan juga merasa mual disertai telinga yang berdenging. Di sekujur tubuh penderita juga akan merasakan sensasi berdetak terutama pada bagian dada, leher dan juga telinga. Hal-hal diatas tersebut adalah ciri umum seseorang yang terserang tekanan darah yang tinggi. Namun, masih ada kemungkinan timbulnya gejala atau ciri-ciri lain yang tidak terlihat dalam tubuh manusia.

Penyebab Tekanan Darah Tinggi yang Perlu Diketahui

Penyebab Tekanan Darah Tinggi
Image Credit: Hellosehat.com

Jika berbicara tentang penyebab hipertensi, umumnya hipertensi memiliki dua jenis berdasarkan penyebabnya. Jenis tekanan darah rendah yang pertama disebut dengan Hipertensi primer atau esensial. Secara umum, hipertensi jenis ini dapat terjadi karena adanya faktor keturunan atau pola gaya hidup yang tidak sehat seperti yang banyak dilakukan oleh masyarakat. Seperti merokok, stress, konsumsi alkohol berlebihan, dan obesitas atau kelebihan berat badan yang dialami penderita.

Merokok dapat membuat tekanan darah menjadi naik sebanyak 4 mmHg. Dalam satu batang rokok saja bisa menyebabkan lonjakan pada tekanan darah dan mampu meningkatkan kadar tekanan darah sistolik. Penyebabnya adalah nikotin yang ada dalam tembakau dapat memacu sistem saraf untuk melepaskan zat kimia yang dapat menyempitkan pembuluh darah arteri. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa merokok dapat berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi.

Begitu pula dengan stress yang ternyata juga berpengaruh pada seluruh kondisi tubuh secara menyeluruh, serta dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah secara mendadak. Oleh karena itu, orang dengan riwayat hipertensi atau darah tinggi sangat disarankan untuk dapat mengelola tingkat stress dengan baik. Stress juga bisa memicu banyak penyakit lainnya. Salah satunya adalah berpengaruh terhadap naik dan turunnya kadar gula darah dalam tubuh penderita.

Obesitas juga menjadi salah satu faktor penyebab hipertensi primer atau esensial. Seperti yang diketahui sejak lama, bahwa obesitas memang menjadi faktor risiko berbagai penyakit termasuk hipertensi. Obesitas atau kegemukan membuat seseorang yang memerlukan tekanan darah yang lebih tinggi dibanding pada saat kondisi tubuh yang normal. Hal ini ini bertujuan untuk mempertahankan keseimbangan antara asupan dan dan ekskresi natrium pada ginjal.

Selain itu, terlalu banyak mengkonsumsi makanan olahan berupa makanan kaleng ataupun makanan cepat saji yang mengandung natrium, juga dapat meningkatkan kolesterol atau tekanan darah tinggi. Begitu pula dengan konsumsi makanan manis yang yang berlebihan juga dapat membuat kadar gula menjadi naik, kemudian berpengaruh pada tensi darah. Sehingga, ada baiknya untuk mulai mengurangi konsumsi makanan yang banyak mengandung natrium ataupun glukosa.

Penyebab darah tinggi pada penderita gagal ginjal umumnya terjadi karena ginjal tidak bisa mengatur jumlah garam dan air dalam tubuh. Sehingga, penderita gagal ginjal biasanya membutuhkan perawatan tekanan darah tinggi sendiri. Dengan begitu, penderita gagal ginjal dapat mempersiapkan kemungkinan penyakitnya kambuh dengan selalu membawa obat-obatan untuk mengatasi gagal ginjalnya meskipun efek samping yang ditimbulkan berupa meningkatnya tekanan darah.

Jenis hipertensi selanjutnya adalah hipertensi sekunder. Tekanan darah tinggi sekunder terjadi karena adanya kondisi medis lain yang menyertainya. Beberapa kondisi medis tersebut diantaranya sleep apnea, masalah yang ada pada ginjal, tumor pada kelenjar adrenal, diabetes serta masalah pada tiroid. Penyakit-penyakit bawaan seperti ini, menjadi salah satu penyebab tekanan darah meninggi. Sehingga, ketika penyakit ini kambuh maka dipastikan tekanan darah akan ikut naik.

Tidak hanya itu saja, darah tinggi juga bisa muncul karena efek samping yang yang ditimbulkan oleh obat gagal ginjal ataupun perawatan penyakit jantung. Beberapa obat yang yang dijual di pasaran seringkali juga memiliki efek samping berupa meningkatnya tekanan darah tinggi. Pada wanita hamil efek samping dari pil KB dan juga terapi pengganti hormon mungkin juga akan menyebabkan tekanan darah menjadi tinggi. Namun, efek samping ini berbeda pada tiap individu.

Faktor Resiko Penderita Darah Tinggi

Faktor Penderita Darah Tinggi
Image Credit: Alodokter.com

Hipertensi atau tekanan darah tinggi, memang bisa menyerang siapapun. Namun, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang yang berisiko lebih tinggi terkena hipertensi. Beberapa faktor tersebut, dipengaruhi oleh keturunan, genetik, usia, etnis dan juga jenis kelamin. Namun, faktor terbesar seseorang yang dapat terserang tekanan darah tinggi adalah faktor usia. Biasanya, seseorang yang lebih tua akan cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi.

Seiring dengan bertambahnya usia, pembuluh darah yang ada pada tubuh cenderung akan menebal dan juga menegang dengan pertambahan waktu. Hal ini akan membuat tekanan darah juga semakin meningkat. Namun, bukan berarti seseorang yang memiliki usia lebih muda akan terhindar dari resiko darah tinggi. Adapun anak yang masih kecil juga harga dapat mengalami tekanan darah tinggi. Namun, tekanan darah ini akan berangsur normal kembali setelah konsumsi obat.

Seseorang yang memiliki keluarga dengan riwayat darah tinggi juga akan memiliki resiko mengalami hal yang sama. Hal ini karena, terdapat gen yang diturunkan dari orang tua terhadap anaknya yang membuat ukuran pembuluh darah ataupun aliran darah sama. Pada keterkaitan tekanan darah tinggi dengan etnis umumnya sering terjadi pada orang keturunan Afrika dibanding keturunan Asia. Kendati demikian, belum ada penelitian rinci yang membahas hal tersebut.

Seperti yang diketahui, darah tinggi dapat menyerang siapapun. Sehingga, jika Anda bukan termasuk dalam kelompok diatas tidak menjamin bahwa Anda bebas dari resiko hipertensi. Pasalnya, faktor utama yang menyebabkan hipertensi adalah gaya hidup yang yang tidak sehat. Sehingga, orang-orang dengan faktor risiko sebelumnya, juga bisa terbebas dari hipertensi atau tekanan darah tinggi dengan catatan tetap menerapkan pola gaya hidup yang sehat.

Selain hal-hal di atas, terdapat beberapa faktor lainnya yang juga bisa meningkatkan resiko seseorang terkena hipertensi. Diantaranya, seseorang yang memiliki riwayat penyakit diabetes, asam urat, kolesterol tinggi, dan juga penyakit ginjal. Mesti begitu, bagi Anda yang merasa tidak memiliki faktor risiko terkena hipertensi, tidak ada jaminan bagi Anda terbebas dari penyakit ini. Sehingga, untuk menyiasatinya Anda bisa melakukan konsultasi kepada dokter kesayangan Anda.

Tekanan darah rendah memang menjadi salah satu penyakit yang dapat menyebabkan tubuh Anda terserang penyakit lainnya. Penyakit ini tergolong unik karena gejala yang ditimbulkan tidak terlihat. Salah satu cara untuk mengetahui ciri-ciri orang yang terkena tekanan darah tinggi atau tidak adalah dengan melakukan kontrol kesehatan secara rutin. Dan juga, kita harus menjaga pola hidup sehat dengan makan makanan yang bergizi serta serta dengan rajin berolahraga.