Kenali Gejala & Penyebab Diare yang Perlu Diwaspadai

Gejala Penyebab Diare

Diare merupakan kondisi dimana penderitanya melakukan BAB secara berlebihan. Kondisi ini bisa terjadi pada anakanak, orang dewasa, hingga manula sekalipun karena beberapa faktor. Kenali gajala dan penyebab penyakit diare yang perlu Anda waspadai.

Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan yang ada di negara berkembang seperti Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan jumlah angka kesakitan diare dari tahun ke tahun semakin meningkat. Lantas apa saja yang menjadi penyebab dan gejala untuk perlu diwaspadai? Maka dari itu, yuk simak ulasan detailnya seperti berikut ini.

Apa itu Diare?

Apa itu Diare
Image Credit: Mystrikingly.com

Diare merupakan sebuah kondisi dimana feses yang dikeluarkan seseorang berbentuk lebih encer atau berair dengan frekuensi lebih sering dari biasanya. Hal ini perlu diwaspadai karena termasuk kondisi yang berbahaya. Bahkan dalam beberapa kasus, diare yang semakin parah dapat terjadi hingga beberapa hari dan ada pula yang berlangsung hingga berminggu minggu.

Setidaknya seseorang dapat mengalaminya satu kali atau dua kali dalam setahun. Biasanya diare akan berlangsung kurang lebih sekitar dua sampai tiga hari, dan bisa ditangani dengan obat yang dijual dengan bebas di pasaran. Tetapi pada kasus khusus, diare harus mendapatkan perlakuan tertentu sesuai dengan anjuran yang diberikan dokter.

gangguan saluran pencernaan ini sendiri ada di peringkat tiga belas penyebab kematian secara umum di Indonesia yang mencapai 3.5%. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa diare tidak bisa dipandang sebelah mata. Kelompok usia yang terbanyak mengalami penyakit ini biasanya adalah balita, yaitu kurang lebih sebanyak 16.7 persen.

Selain itu, prevalensi diare sedikit lebih tinggi pada anak laki laki yang mencapai 14.8% dibandingkan dengan anak perempuan yang hanya pada angka 12.5%. Tidak hanya itu saja, hasil penelitian Departemen Kesehatan RI tahun 2007, membuktikan bahwa diare paling tinggi terjadi pada anak yang tinggal di pemukiman tanpa akses air bersih yaitu 18.4%.

Faktor yang Mempengaruhi Munculnya Diare

Faktor Munculnya Diare
Image Credit: Parenting.orami.co.id

Gangguan pencernaan yang ditandai dengan keluarnya kotoran buang air besar BAB yang encer dapat terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya, hal ini terjadi ketika cairan dari makanan tidak dapat diserap usus dengan baik. Selain itu, faktor lainnya yang menyebabkan kondisi ini terjadi adalah ada banyak cairan yang disekresikan ke usus.

Padahal secara normal, usus akan menyerap cairan makanan yang dikonsumsi dan meninggalkan feses setengah padat. Jika cairan dari makanan tersebut tidak dapat diserap dengan baik, maka hasilnya kotoran akan menjadi encer. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa penyebab lainnya sehingga diare dapat berlangsung secara singkat atau lama.

Umumnya, diare yang berlangsung secara singkat merupakan gejala infeksi usus yang disebabkan oleh bakteri, virus, hingga parasit. Jika pengidap berada di kondisi lingkungan yang bersih dan makanan mencukupi, maka pasien akan sembuh dari infeksi virus dalam beberapa hari dan paling lama hanya sekitar satu minggu.

Penyebab lain diare bisa terjadi karena faktor psikologis yang merasa cemas, mengkonsumsi minuman keras, usus buntu, efek samping obat, hingga alergi makanan tertentu. Dalam kondisi tersebut, penderita dapat memulihkan kondisinya kembali dengan mengkonsumsi obat diare serta mengkonsumsi makanan sehat kaya akan gizi.

Diare juga bisa terjadi karena terdapat luka, penyakit atau kelebihan vitamin C sehingga menyebabkan perut menjadi sakit. Hal ini dikarenakan pengidap mengonsumsi makanan yang pedas, bersantan, dan asam sekaligus secara berlebihan. Oleh karena itu, kondisi usus akan kaget sehingga menyebabkan makanan tidak terserap dengan cukup baik.

BACA:  11 Manfaat Konsumsi Minyak Ikan Untuk Kesehatan

Selain faktor internal dalam tubuh, diare juga bisa terjadi karena kondisi cuaca yang tidak stabil. Salah satu contohnya yaitu sanitasi kamar mandi, tempat pengungsian yang buruk, serta kondisi rumah yang kotor akibat genangan air banjir. Hal tersebut akan mempengaruhi ketersediaan air bersih dan menyebabkan mudahnya terjangkit wabah diare.

Hingga detik ini, masih banyak masyarakat yang menyepelekan penyakit satu ini. Padahal dalam beberapa kasus, diare ringan yang semakin parah dapat mengancam nyawanya. Hal ini dikarenakan tubuh kekurangan cairan dalam jumlah besar, dan secara bersamaan organ tubuh mengalami gangguan yang membuat tubuhnya lemas.

Gejala yang Timbul Ketika Orang Terserang Diare

Gejala Orang Terserang Diare
Image Credit: Honestdocs.id

Pada tiap penderita diare, biasanya gejala yang timbul akan berbeda beda. Beberapa orang mengeluarkan feses yang tidak terlalu encer, dan sebagian mengeluarkan feses berupa cairan. Meskipun begitu, terdapat beberapa gejala yang sering kali dikaitkan dengan penyakit ini seperti kram perut, nafsu makan berkurang, mual dan muntah.

Umumnya pada orang dewasa, diare ini akan pulih dalam kurun waktu sekitar dua hingga empat hari. Sedangkan pada anak anak, pemulihannya lebih lama yaitu sekitar lima sampai tujuh hari. Apabila gejala tersebut berlangsung lebih parah dalam seminggu, maka ada baiknya segera pergi ke dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Pengeluaran cairan melalui kotoran berlebihan disertai dengan nafsu makan yang hilang, dapat berdampak pada dehidrasi. Apabila kondisi yang seperti ini tidak mendapatkan penanganan, akan berakibat fatal bagi penderitanya. Dehidrasi sendiri lebih mudah terjadi pada anak anak, karena daya tahan tubuhnya yang masih rentan daripada orang dewasa.

Gejala dehidrasi pada anak ditandai dengan jarang buang air kecil, mulut kering atau menangis tanpa air mata, hingga feses berdarah atau berwarna hitam. Tidak berhenti sampai di situ saja, pada kondisi fisiknya bisa dilihat dari keadaan mata atau perut yang cenderung cekung. Sedangkan pada bagian kulit jika dicubit tidak kunjung kembali seperti semula.

Untuk tanda dehidrasi pada orang dewasa biasanya akan mengalami kelelahan dan tidak bertenaga, mual hingga muntah, pusing , kram otot, jantung berdebar, dan hilangnya nafsu makan. Sementara pada tanda fisik yang bisa dilihat yaitu mata terlihat lebih cekung, mulut serta lidah terasa kering, dan perut cenderung mengecil.

Cara Mendiagnosis Penderita Diare

Mendiagnosis Penderita Diare
Image Credit: Klikdokter.com

Kondisi diare umumnya terjadi selama seminggu, dan dapat sembuh tanpa bantuan pengobatan apa pun. Namun jika kondisi tersebut semakin parah, akan lebih baik jika segera memeriksakan diri ke dokter. Untuk mengetahui apakah pasien mengidap diare, hal yang dilakukan dokter adalah mengumpulkan informasi mengenai gejala yang dialami.

Dokter biasanya akan menanyakan tekstur kotoran, kebiasaan sehari hari, sampai frekuensi buang air besar yang dialami pasien. Selain itu, jika Anda mengidap penyakit gangguan pencernaan ini, sebaiknya informasikan pada dokter bila ada gejala lain yang menyertai seperti demam tinggi dan faktor psikologis.

Ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis diare, antara lain analisis feses, tes darah, pemeriksaan umum, sampai dengan pemeriksaan tambahan. Hal tersebut bertujuan untuk memastikan penyebab dan cara mengobatinya agar teratasi dengan tepat, sehingga pasien diare akan lebih cepat memulihkan kondisinya.

Untuk analisa feses, biasanya dokter akan meminta Anda menyerahkan sampel feses. Analisa ini bertujuan untuk mengidentifikasi kemungkinan infeksi yang terjadi. Hal ini harus dilakukan apabila Anda sudah mengalami diare lebih dari dua minggu, dan ada darah atau nanah pada feses yang disertai dengan gejala lainnya.

BACA:  10 Manfaat Daun Bidara Bagi Kesehatan yang Perlu Diketahui

Selain mendiagnosis menggunakan cara analisa feses, biasanya dokter akan meminta Anda melakukan tes darah apabila terdapat kecurigaan yang mengindikasikan gejala dari penyakit lain. Misalnya saja hasil tes darah yang menunjukkan adanya peradangan. Hal tersebut menunjukkan salah satu gejala penyakit radang usus.

Sedangkan untuk pasien yang berusia di atas 50 tahun atau mengalami diare yang sulit sembuh, maka dokter akan melakukan pemeriksaan khusus yaitu rektum digital. Cara memeriksanya pun dilakukan dengan cara memasukkan jari ke dalam rektum untuk meninjau kondisi yang abnormal. Hal ini juga bertujuan untuk mendiagnosis penyakit yang berhubungan dengan usus.

Tidak berhenti sampai di situ saja, biasanya dokter juga bisa menyarankan pemeriksaan tambahan untuk membantu menyimpulkan diagnosis, seperti memasukkan alat sigmoidoskop. Alat tersebut berupa tuba tipis yang fleksibel dan memiliki kamera di ujungnya. Untuk menggunakannya harus dimasukkan ke dalam rektum hingga ke usus.

Selain itu, ada juga pemeriksaan tambahan yang bisa dilakukan dengan cara kolonoskopi. Prosedurnya hampir mirip dengan cara sebelumnya (sigmoidoskopi), tetapi tuba yang digunakan untuk mendiagnosis lebih besar sebagai pemeriksa secara keseluruhan kondisi usus pasien yang mengalami kondisi tersebut.

Cara Tepat Untuk Mengobati Diare

Cara Mengobati Diare
Image Credit: Hellosehat.com

Gejala diare biasanya akan menghilang dengan sendirinya meskipun tanpa bantuan pengobatan apa pun. Diare akan berlangsung hingga tujuh hari secara maksimal. Namun, pada kasus tertentu diare akan dapat berlangsung lebih lama tergantung penyebabnya. Anda dapat melakukan beberapa cara untuk meringankan gejala yang sedang dialami.

Saat mengalami diare, salah satu yang harus Anda lakukan adalah dengan cara mengonsumsi lebih banyak cairan terutama jika gejala diare disertai mual dan muntah. Hal tersebut sangat dibutuhkan untuk menghindari efek lainnya seperti dehidrasi. Untuk itu, minumlah sedikit sedikit tapi frekuensinya sering.

Akan lebih baik jika cairan tersebut masuk sedikit ke dalam tubuh daripada tidak sama sekali. Apabila asupan cairan terpenuhi dengan cukup, maka urine akan berwarna sedikit kuning muda atau hampir bening. Hindari beberapa makanan yang menyebabkan gejala tambah parah seperti minuman jus buah atau yang mengandung fiber dan serat.

Bagi pasien diare yang rentan dehidrasi, maka dokter akan menyarankan penggunaan oralit sebagai obat diare. Hal ini sangat disarankan untuk pasien yang memiliki fisik lemah karena berusia di atas 60 tahun atau memiliki riwayat kesehatan serius. Oleh karena itu, mengonsumsi oralit menjadi langkah yang paling tepat untuk mengobati diare.

Untuk mendapatkan obat diare jenis oralit, Anda bisa menemukannya dengan mudah karena dijual bebas di apotek. Anda tinggal mencampurnya dengan air sebelum mengonsumsinya sebagai obat. Fungsi obat diare oralit ini dapat menggantikan glukosa, garam, dan mineral penting lainnya yang kemungkinan hilang ketika mengalami kekurangan cairan.

Sedangkan bagi penderita anak-anak, biasanya dokter akan menyarankan obat oralit jika terlihat tanda tanda dehidrasi. Oralit dapat diberikan setiap kali ketika anak buang air besar. Banyaknya dosis oralit yang bisa dikonsumsi ini tergantung pada berat badan anak dan frekuensi buang air besar yang dialaminya.

Selain itu, Anda juga bsa memanfaatkan obat diare dengan jenis anti-diare. Obat ini berfungsi untuk mengurangi gejala diare dan mempersingkat durasinya agar tidak semakin parah. Namun, sebenarnya obat diare tidak diperlukan karena sistem kekebalan tubuh seorang pasien pasti akan melawannya secara alami, bila diare tidak parah.

Obat anti-diare yang paling sering digunakan dan cukup aman yaitu loperamide. Pasalnya, obat jenis ini dapat mengurangi pergerakan usus yang membuat cairan akan lebih banyak diserap. Dengan mengonsumsi obat diare loperamide, maka akan membantu Anda yang sedang mengalami gejala diare teratasi dengan lebih cepat dan tepat.

BACA:  Ketahui Penyebab & Cara Menghilangkan Keputihan Secara Alami

Tidak berhenti sampai di situ saja, sebab masih ada obat yang bisa digunakan meredakan gejala diare. Obat ini merupakan pereda sakit yang sebenarnya tidak dapat mengatasi diare. Namun, pemberian ibuprofen atau parasetamol dapat membantu meredakan gejala yang menyertai diare seperti demam dan sakit kepala.

Setelah mengatasi diare dengan obat yang sesuai dengan kebutuhan, ada hal lainnya yang harus Anda lakukan. Para ahli menyarankan agar pasien tidak mengonsumsi makanan padat dulu ketika diare berlangsung. Setidaknya sampai Anda mampu makan dengan normal. Akan lebih baik jika makan dalam porsi lebih sedikit dari biasanya dan menghindari makanan yang pedas serta berlemak.

Selain itu, jangan berikan makanan padat pada anak anak jika mereka mengalami dehidrasi. Anda bisa menunggunya sampai mereka benar benar mengonsumsi cukup cairan di dalam tubuh. Makanan baru ini bisa diberikan sesudah tidak lagi menunjukkan tanda atau gejala dehidrasi. Namun, jika anak tidak mengalami dehidrasi, sebaiknya berikan makanan seperti biasa.

Cara yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Diare

Cara Mencegah Diare
Image Credit: Nazava.com

Salah satu masalah pencernaan yang cukup mengganggu ialah diare. Umumnya, kondisi ini ditandai dengan frekuensi buang air besar (BAB) yang lebih sering dibandingkan biasanya. Selain itu, feses yang dikeluarkan lebih encer atau berupa cairan. Penyebab terjadinya diare bisa bervariasi, mulai dari bakteri hingga tertular dengan penderita lainnya.

Masalah yang diakibatkan oleh mengonsumsi makanan atau minuman, biasanya terkontaminasi virus, parasit, atau bakteri. Hal tersebut akan mengakibatkan seseorang mengalami diare yang hanya berlangsung beberapa hari. Namun pada sebagian pengidap yang memiliki fisik rentan juga dapat dialami sampai berminggu minggu lamanya.

Maka dari itu, janganlah menganggap enteng walaupun kondisi ini umum terjadi. Karena diare bisa berakibat buruk jika pengidap mengalami dehidrasi parah akibat kehilangan banyak cairan tubuh. Agar terhindar dari kondisi pencernaan ini, Anda harus mengetahui beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya diare.

Hal tersebut bisa terjadi karena faktor lingkungan. Sebab, diare bukan saja berdampak kepada pasien pengidap itu sendiri, tapi juga bisa menyebar kepada anggota keluarga. Oleh sebab itu, diare harus dicegah sedini mungkin agar tidak menularkan pada anggota keluarga lainnya mulai dari menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan sebelum makan.

Selain itu, Anda harus memastikan makanan yang mentah dan matang terpisah, sehingga tidak akan ada bakteri yang menyebar pada makanan yang sudah matang. Tidak berhenti sampai di situ saja, Anda juga harus mengutamakan untuk memakan makanan dari bahan yang masih segar agar tidak terkontaminasi bakteri serta virus yang merugikan.

Bila mencegah diare agar tidak menularkan pada anggota keluarga lainnya bisa dilakukan dengan cara menghindari penggunaan barang pribadi secara bersamaan, seperti peralatan makan atau handuk. Selain itu, selalu bersihkan toilet menggunakan desinfektan setelah buang air besar. Hal tersebut akan membuat kebersihan tetap terjaga dan mengurangi risiko penularan diare.

Sebenarnya, cara mencegah diare tergantung pada kedisiplinan seseorang dalam menjaga kebersihan makanan dan lingkungannya. Anda harus benar benar memperhatikan cara mengelola makanan mulai dari cara memasak hingga pada proses penyimpanan. Dengan demikian, bisa meminimalisasi dari berkembangnya mikroorganisme, seperti bakteri yang bisa menyebabkan diare.

Itulah beberapa ulasan mengenai penyebab dan gejala diare yang perlu diwaspadai. Penyebab diare bisa terjadi karena beberapa faktor yaitu makanan, kebiasaan buruk mengonsumsi alkohol, hingga kondisi psikologis. Untuk mengobatinya, pastikan Anda memberikan obat obatan yang sesuai gejala dan ikuti petunjuk pemakaiannya.